Mendidik Anak Cerdas Finansial

Minggu lalu diminta mengisi kulwap di WAG Yuk Jos 1821. Tema yang dipilih adalah adalah mengajarkan anak cerdas finansial sejak dini.

Membaca baca lagi buku parenting,,
Dan tulisan Abah Ihsan, saya kutip untuk introduction, berikut :

Banyak dari kita yang sedari kecil dilatih dan menyimpan uang (hemat) dengan 
menabung, tetapi sedikit dari kita yang dilatih orangtua untuk membelanjakan 
uang. Padahal keterampilan mengelola belanja adalah modal dasar untuk dapat 
mendayagunakan sumber daya menjadi investasi yang lebih baik. Akibat tidak 
dilatih mendayagunakan uang, sebagian orang dewasa bisa melakukan saving, 
tetapi sedikit yang mampu melakukan investing. Dengan menerapkan uang saku, anak-anak dilatih dari kecil untuk tidak hanya memiliki keterampilan menabung, tetapi juga dilatih agar memiliki keterampilan membelanjakan uang dengan tujuan mereka dapat mengendalikan konsumsi, bukan dikendalikan oleh konsumsi. 
(Dikutip dari buku Abah Ihsan “Anak Saleh Lahir Dari Orangtua Saleh”)


Sebenernya apa sih tujuan melatih anak untuk cerdas finansial sejak dini?
a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.
b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.
c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.
d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan “gaya hidup” sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.
f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.

Mendidik anak cerdas financial ini, dibagi menjadi 2 kelompok, anak kurang dari 7 tahun dan anak lebih dari tujuh tahun.

Kenapa 7tahun patokannya?
Anak bisa berpikir secara abstrak, Pembiasaan keterampilan beribadah mulai dijalankan. Anak mulai belajar calistung.

Cerdas Finansial untuk Anak Usia Kurang Dari 7 Tahun

Sebelum anak umur 7th sudah bisa diajarkan ya mom..

Fokuskan pada *konsep rejeki dan uang* terlebih dahulu yang perlu dipahamkan ke anak-anak.

Contoh : 
Anak usia 3 th ingin mobil-mobilan warna biru. Merengek minta ke ortunya.
🧕🏻 : “Kak, bukan bapak ibu yang bisa memenuhi permintaanmu, hanya Allah yang bisa 
memenuhinya, maka mintalah ke Allah, Dia Yang Maha Kaya”
Apabila kita sudah ada kelebihan rejeki dan tergerak membeli mobil warna biru sesuai spec yg 
diingankan anak kita, segera belilah, dan berikan kejutan ke anak-anak
🧕🏻 : “Kak, alhamdulillah Allah mengabulkan doamu, bapak ibu diberikan rejeki, dan digerakkan 
untuk membeli mobil-mobilan kesukaanmu, ini dia, segera bersyukur ke Allah ya”

*Konsep rejeki sudah bisa mulai dilatihkan sejak anak mulai bisa berbicara usia 1 th ke atas* – 7 th (usia sekolah) anak sudah punya keinginan dan kebutuhan.

Anak juga dipahamkan bahwa untuk membeli sesuatu perlu uang. Kita perlu bekerja untuk memperoleh uang.

Dipahamkan berulang-ulang, mana yg menjadi keinginan dan mana kebutuhan. Penuhi yang masuk kategori kebutuhan terlebih dahulu. ( *Membedakan kebutuhan dan keinginan* )

Untuk mengatasi anak konsumtif (usia kurang dari 7tahun), bisa diberlakukan SNACK TIME.



Snack Time, bukan banyaknya jajanan yang harus dibatasi, namun Frekuensi membeli jajanan yang harus diatur dengan jelas. Misal, jadwal jajan : setiap 2 hari sekali anak diajak belanja snack di market, anak boleh membeli 2 makanan dan 2 minuman untuk stok snack 2 hari di rumah. Ajari anak berlatih untuk mengatur konsumsinya. Jika snack habis sebelum 2hari, jangan dibelikan lagi dulu. Habis ini bisa dimakan sendiri ataupun dibagi dengan anak lain.

Adapun jadwal lainnya, dapat disesuaikan. Misal Jadwal beli mainan sebulan sekali, setiap tanggal x, senilai xx rupiah. Jadwal beli buku, sebulan sekali, setiap tanggal y, senilai yy rupiah.

Mengenalkan konsep nominal uang


Anak kurang dari 7 tahun, dapat mengenal nilai mata uang tertentu, dari pecahan terkecil hingga terbesar, serta dari bentuk dan warna. Mengenalkan nominal uang ini bisa dengan bermain peran jual beli. Ataupun transaksi jual beli betulan. *Mengenalkan uang pada anak itu tidak ada patokan, bergantung pada lingkungan dimana anak-anak dibesarkan.* Misal di lingkungan pedagang, maka anak-anak pasti akan lebih cepat ingin mengenal uang karena mereka melihat hal tersebut setiap hari. Anak yang lingkungannya hobi jajan, pasti juga ingin mengenal uang lebih cepat. Anak yang berada di lingkungan pegawai, dan tidak suka jajan biasanya rasa ingin tahu tentang uangnya lebih lama dibandingkan dua lingkungan sebelumnya.

Cerdas Finansial Untuk Anak Lebih Dari 7 Tahun

UANG SAKU

Pada anak usia lebih dari 7 tahun, mulai terapkan UANG SAKU. UANG SAKU ini bertujuan membiasakan anak belajar mengelola keuangan sendiri dan akhirnya belajar membelanjakan
uang. Konsep UANG SAKU berbeda dengan UANG JAJAN. Uang saku itu terencana, uang jajan itu spontan. Uang Saku dari seminggu sekali hingga sebulan sekali (Latih bertahap). Jika ragu memulai seminggu sekali, bisa latih bertahap dari dua hari sekali, evaluasi, naik menjadi empat hari sekali, evalusi lagi, naik menjadi seminggu sekali, evaluasi, latih dua minggu sekali, hingga sebulan sekali.

Uang saku ini diluar kebutuhan pokok anak ya. Untuk kebutuhan pokok anak masih tanggungjawab orangtua. Kebutuhan pokok anak, misal alat tulis. Untuk buku dan pensil standart harus dipenuhi orang tua di luar uang saku nya. Tapi jika anak kok pengen buku atau pensil yang lucu-lucu diluar kebutuhan yg sudah disediakan ortunya, anak harus membeli sendiri.

Lalu apa indikator keberhasilan penerpan praktik uang saku?
  • Ketika anak tidak lagi sembarangan menggunakan uangnya
  • Ketika anak tidak lagimenghamburkan uang yang dipercayakan kepadanya
  • Ketika sampai batas waktunya, uang yang dikelola anak masih tersisa.
Apakah sekali mencoba, akan langsung berhasil? ohh belum tentu... Tapi anak yang konsisten dimulai dari orang tua yang konsisten. Jika uang saku habis sebelum waktunya, ortu pun harus konsisten untuk tidak memberi uang saku tambahan.

Tantangan pertama adalah culture shock. Euforia dan culture shock ini hal yang wajar. Euforia dan culture shock ini maksudnya anak-anak senang sekali pas pertama kali dapat uang banyak (uang saku mingguan). Apa2 jadi pengen dibeli. Namun lama kelamaan jadi tau mau prioritas yang harus dibeli..

Saya ceritakan pengalaman Putra saya, uang saku pertamanya, 35rb utuk seminggu. Awalnya tentu seneng bgt. Uang saku pertama nya habis dalam sekali jajan, untuk beli nut*lla. Di rumah, kami sedia snack standar (roti tawar, margarin, mesis). Kakak pengen makan roti isi nut*lla. Krn sudah punya uang saku sendiri, jadi kalau mau ya beli pake uang sendiri atau makan seadanya di rumah. Dia memilih membeli dengan uang sendiriKakak jadi tau harga nutella mahal. Uangnya habis sebelum seminggu. Dari situ kakak belajar, mana yg penting dibeli dan tidak.
Tiap diajak pergi, gak yg apa2 pengen dibeli. Kalau ditawarin beli minuman/makanan apa gitu, nanya dulu beli sendiri apa ditraktir papa bunda??? Maka sempet ada ungakapan kakak, enak sebelum punya dompet sendiri ya bun.. Punya dompet, apa apa beli sendiri..

Insyaallah, anak akan terus belajar memperbaiki dirinya. Anak akan secara alamiah belajar tentang perencanaan, tanggung jawab, dan kemandirian. Anak juga belajar Pengendalian diri (keinginnan vs kebutuhan). Dengan uang saku anak belajar keterampilan dan latihan mengelola belanja.

Konsep 3S "Spend-Share-Save"


3S ini Spend - Share – Save. Anak diajarkan untuk mengelola uang saku nya untuk
  • Spend - dibelanjakan
  • Share - dibagikan ( disedekahkan, diinfaqkan)
  • Save - ditabung.

Idealnya anak yg sudah bisa calistung, bisa memakai mini budget ya.
Misal 40% spend. 30% save. 30% share. Atau pake angka lain yg lebih cocok dengan kebutuhan masing-masing

Tetapi saya belum praktek dengan budget seperti diatas, Anak baru 7tahun. Selama ini saya ajarkan dengan menyediakan 3 dompet. Dompet uang untuk belanja, Dompet uang untuk nabung, Dompet untuk infaq. Ketika dapat uang 35rb untuk seminggu, dia sisihkan 5rb di awal untuk masuk dompet nabung. Jika dompet nabung ini sudah mencapai 50rb, anak diajak ke atm / bank untuk menabungkan uangnya di bank. Sisanya masuk dompet belanja. Dompet infaq biasanya anak saya termasuk yg spontan ambil dr dompet belanja nya. Dia juga ga itung2an untuk infaq. Sudah kayak tertanam *kalau infaq nya ikhlas, diganti Allah berkali2 lipat*. Saya belajar konsep infaq dan rejeki malah dari putra saya. Suka tertampar sendiri sebetulnya. Jika dalam seminggu di dompet belanja ada sisa uang, masuk ke dompet nabung, biar cepat menuju 50rb nya.

Jika sudah mendapat uang saku, bagaimana dengan jdawal beli mainan?

Orang tua boleh membebaskan anak atau tetap ada jadwal beli, tapi anak membayar dengan uang saku sendiri. 
Jadwal beli mainan anak saya coret sejak dapat uang saku. Yang masih ada jadwal beli buku saja. Seperti di buku abah ihsan sebut Untuk jadwal beli mainan, boleh membebaskan anak anak tetap ada jadwal tapi anak membayar dengan uang saku sendiri.
Kakak ini agak maniak mainan. Kalau diperhatikan sejak mei, lebih banyak belanja mainan. Cuman yg dibeli sekarang harga nya lebih receh dibanding saat belum punya uang saku. Ehh pernah denk saat uda punya uang saku kepengen robot harga 150rb. Menabung lama sekali ya bund katanya. Malah trus muncul ide dia berjualan. Kreatif banget kan anak2..

Bagaimana menjelaskan perbedaan uang saku kakak dan adik?


Jika adik kurang dari 7 tahun, belum mendapat uang saku. Adik iri karena kakak dapat uang saku ya..
Kami sering-sering sounding bahwa umur 7th itu istimewa. Kami jelaskan bahwa mulai umur7tahun anak akan mendapat hak uang saku, namun juga ada kewajiban sholat dan tugas rumah tangga, serta akan jadi kakak SD.
Saat usia 7th pun kami siapkan hadiah dan perayaan kecil di keluarga, hadiah berupa perlengkapan sholat baru dan dompet, serta 1 hadian bebas memilih ( anak saya memilih mainan ).
Tentu ini terkadang bikin iri adik ya,, sikap kami memberi penjelasan nantinya adik juga akan mendapat hadiah istimewa saat umur 7 tahun juga.

Jika kakak dan adik sama sama sudang memiliki uang saku ( lebih dari 7tahun), namun dengan nominal berbeda.
Ini perlu pendekatan bonding ke anak untuk menjelaskan adil itu tidak harus sama..
Bisa dijelaskan kenapa kakak lebih besar uang sakunya, karena kebutuhan kakak lebih banyak. Dan tanggung jawab kakak pun lebih besar pula. Kebutuhan kakak lebih banyak, misal karena pulang sekolahnya lebih siang dibanding kelas adiknya. Tanggung jawab ini bisa dianalogikan misal tugas beberes rumah kakak lebih banyak dari adik ya..

Jika sekolah anak ada jumlah maksimal uang saku yang boleh dibawa bagaimana dengan uang saku mingguan atau bulannya?

 Sekolah anak saya juga ada maksimal uang yg dibawa ke sekolah mom. 5rb per hari. Kami jelaskan uang saku 35rb untuk seminggu disimpan di dompet. Yang dibawa ke sekolah paling banyak 5rb.
Jika kok ada yang pengen dibeli lebih dari 5rb, saat dijemput pulang si embak akan membawakan dompetnya. Dan anak yang akan mengaturnya sendiri. Misal ne ya...
Hari senin ada mainan di depan sekolah yg dia incer. Harga 18rb. Dia pikir2 dulu mau beli apa gak.. Saya bebaskan. Dan hari rabunya, dia minta si embak pas jemput bawa dompet nya.. Belilah mainan 18rb itu... Uang di dompetnya tinggal berapa? 7rb. Harus sampai hari minggu. Hari ini dia hanya bawa uang 2rb ke sekolah...
Anak anak malah belajar mengatur uangnya sendiri. Jadi uang saku mingguan dan uang yang dibawa ke sekolah bisa berbeda ya.

Bagaimana jika anak sering mendapat "uang sangu" dari embah atau saudara yang lain?

Bantuan Hidup dari embah. Prinsipnya selama anak tidak meminta, murni eyang / saudara nya pengen ngasih, ya gak papa. Itu namanya REZEKI anak. Uangnya hak anak.



Demikian cara mengajarkan anak cerdas fiansial, semoga bermanfaat.

The first step to teach your kids how to handle money is being a good example. Get your kids involved with handling money at an early age, so they can be successful on their own later









Komentar

Postingan Populer