Menyeimbangkan Anak Sebagai Amanah (Beban) dan Anugerah
Menyeimbangkan Amanah (Beban) dan Anugerah
Bersyukur kita diberi kenikmatan “memiliki anak”
Amanah dari kata aman. Allah menitipkan anak ke kita, Allah
merasa anak aman (Fitrah anak terjaga). Anak anak akan ditarbiyah, ortu menjadi
murobbi sehingga terbentuk generasi robbani.
Konsekuensi Jika
Tidak Amanah
·
Ortu disebut orang yang berkhianat
·
Ortu termasuk orang munafik
Anak, baik raga dan jiwanya, harus diurus. Dengan
melakukan kegiatan education. Bukan hanya kirim ke sekolah, tapi harus ada
majelis ilmu di keluarga. Jadilah orangtua yang proaktif bukan reaktif.
·
Bukan disebut orang yang beriman
·
Tidak amanah. Amanah adalah beban.
Setiap amanah ada ujiannya. Amanah fisik,
kalau tidak menautkan hati, pernikahan akan hambar dan garing. Amanah ilmu à beda lho well educated
dan well schooled. Amanah pekerjaan,
dst.
Seorang ayah / suami adalah pemimpin keluarga
dan diminta pertanggungjawabannya (kepala keluarga – kayak presidennya kalau sebuah negara). Seorang Ibu / Istri adalah pemimpin di
rumahnya ( kepala rumah tangga – kayak perdana menterinya).
Kunci Kebahagiaan
·
Mempunyai pasangan sholih / sholihah
·
Mempunyai anak anak yang sholih sholihah
Surga dunia adalah keluarga. Jika
travelling, wisata, bersenang-senang lainnya terasa menyenangkan itu karena
sesekali atau jarang.
Anak masih kecil, menyenangkan, makin gak
bosen. Semakin besar harusnya anak anak semakin mudah, tambah besar anak lebih lancer
komunikasinya (jadi temannya), dengan catatan fase sebelumnya sudah tuntas.
·
Mempunyai lingkungan yang baik à punya tetangga harus
dipelihara.
Kita bisa memilih rumah, tapi kita gak bsa
milih tetangga. Pilihlah teman pergaulan. Ikutlah komunitas.
·
Mempunyai pekerjaan tetap di negeri sendiri
Jangan lah LDR, suami pindah tugas, ya
ikut. Jangan alas an gak ada sekolah anak yang bagus disana. Prioritas keluarga
bagus, bukan sekolah bagus.
LDM boleh jika temporary. Jelas ada batasnya.
Misal, Sekolah di LN 3tahun.
Berpisah sesekali boleh, misal seminggu per
tahun istri pulkam tanpa suami. Malah dianjurkan berpisah sesekali untuk
menciptakan kerinduan.
Kenikmatan
Berkeluarga :
·
Investasi Akhirat
Di akhirat kita akan dapat deviden. Gak
usah nunggu di akhirat, di dunia saja kita bisa dapat deviden.
Double deviden mendidik anak :
Dirasakan saat hidup : anak shalih shalihah yang menyejukkan hati (Qurrotu'ayun)
Dirasakan setelah mati : doa anak sholeh sholehah adalah salah satu amal tak putus (Awwaladun shalihun yad'ula bih)
Double deviden mendidik anak :
Dirasakan saat hidup : anak shalih shalihah yang menyejukkan hati (Qurrotu'ayun)
Dirasakan setelah mati : doa anak sholeh sholehah adalah salah satu amal tak putus (Awwaladun shalihun yad'ula bih)
Jangan lupa peluk / sentuh anak. Misal rutinitas
sebelum tidur memeluk dan mencium naka (anak kecil), kalau anak udah gede bukan
ortu yang meluk anak tapi anak yang meluk nyium ortu.
·
Menentramkan hati kita (sakinah)
·
Keluarga yang menjaga kita à dengan berkeluarga
kita pulang teratur, bisa menabung, dst….
Saat kita mendidik anak sebenarnya kita sedang mendidik diri
sendiri. Anak adalah cerminan orang tua.
Anak anak lebih banyak menyenangkannya daripada ujiannya.
Kenikmatan bersama anak lebih banyak daripada beban. Supaya beban terasa nikmat,
ya Urus anak.
Mendidik anak itu melelahkan. Tapi lebih melelahkan jika
anak tidak dididik.
Catatan Matapena Yuk Jos 1821 Abah Ihsan
Kamis, 21 Mei 2020
Notulis Mom Nurika

Komentar
Posting Komentar